Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Adab Memberi Nama untuk Sang Buah Hati

Seorang muslim hendaknya mengetahui adab memberi dan memilih nama dan kunyah (nama panggilan, yang diawali ‘abu’ atau ‘ibnu’, atau yang lainnya) untuk buah hatinya. Memberi nama yang baik adalah termasuk kebaikan orang tua terhadap anak. Di masyarakat, terkadang muncul berbagai problema dikarenakan nama yang disandang. Oleh karena itu, sangat baik jika kita memperhatikan beberapa adab yang berkaitan dengan memberi nama. Di antara adab-adab tersebut adalah.
  • Memberi Nama pada Usia Tujuh Hari.

    Dalam hal ini Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Setiap anak tergadai dengan ‘aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh (dari kelahirannya), dicukur rambutnya dan diberi nama”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah dan al-Hakim dan dishahihkan oleh adz-Dzahabi). Hadits tersebut menunjukkan disunnahkannya aqiqah, mencukur rambut bayi yang lahir dan diberi nama pada hari ke tujuh dari kelahirannya. Sebagai misal, jika anak lahir hari Senin, hari Ahad yang akan datang itulah hari ke tujuh).



  • Memilih Nama yang Baik

    Di antara nama yang disukai Allah Ta’ala adalah nama yang tercantum dalam sabda Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam, “Nama yang paling disukai Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman”. (HR. Muslim dari Ibnu Umar )


    Demikian juga nama baik lainnya, seperti Muhammad, Ahmad, Mahmud, Abdurrahim, dan lain-lain. Mendapat nama yang baik merupakan salah satu hak anak dari orangtuanya. Hal ini juga termasuk perlakuan baik orangtua terhadap anak, sehingga jangan sampai nama tersebut menjadi aib bagi si buah hati ketika dewasa nanti. Dan yang memprihatinkan adalah bahwa sebagian besar orangtua zaman sekarang justru terobsesi (atau jelasnya menjadi korban) oleh nama-nama vigur mereka yang tidak jelas baik dari kalangan artis, pemain-pemain bola ataupun lainnya, sehingga mereka memberi nama buah hati mereka dengan nama-nama yang tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam.



  • Memilih Nama yang Islami.

    Orangtua seharusnya memilih nama untuk anaknya dengan nama Islami yang menunjukkan identitas keislamannya. Jangan sampai orangtua menamakan anaknya dengan nama-nama dewa, orang kafir atau dengan nama yang menyerupai nama mereka. Kita lihat di negeri-negeri kaum muslimin pada umumnya mereka memiliki nama seperti Simon, Khauri, David, Alex, Dewa, Dewi, Isis, Osiris, Widhi, dan lain sebagainya yang mengadopsi dari nama-nama yang tidak Islami. Oleh karena itu yang paling utama dan wajib adalah memilih dan memberi bagi sang buah hati dengan nama-nama yang Islami.



  • Tidak Memberikan Nama yang Terlarang.

    Di antara nama yang terlarang ialah sebagaimana tercantum dalam hadits Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam, “Jika umurku panjang aku akan melarang seseorang dinamai dengan nama ‘Rabaah’ (arak), ‘Najih’ (yang sabar), ‘Aflah’ (yang beruntung), ‘Naafi’ (yang bermanfaat), dan ‘Yasaar’ (kemudahan)”. –(HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim dan ia menshahihkannya dan disetujui adz-Dzahabi dan lain-lain)
    Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan sebab terlarangnya nama-nama tersebut dengan sabda beliau shallalahu ‘alaihi wasallam “.… Sebab jika kamu bertanya , “Apakah di sana ada dia (Yasaar = kemudahan)? “Dan ternyata memang dia tidak ada, maka dia akan menjawab , “Tidak ada (kemudahan)”. (HR. Muslim)


    Di antara perkara yang termasuk dalam larangan ini adalah nama-nama yang mengandung makna kesombongan, keangkuhan, dan penentangan terhadap Allah Ta’ala, sebagaimana yang tertera dalam sabda Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam, “Nama terjelek di sisi Allah adalah seorang yang diberi nama ‘Malikul Amlaak’ (raja diraja). Sesungguhnya tiada penguasa kecuali hanya Allah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)


    Di antara nama yang sejenis adalah ‘Syahin Syah’ (raja diraja persia), ‘Qadhil Qudhaat’ (hakimnya para hakim), atau yang bernama Fir’aun, dan lain-lain.



  • Tidak Memberikan Nama yang Buruk.

    Di antara nama yang buruk adalah :‘Kalb’ (anjing), ‘Kilaab’ (anjing-anjing), ‘Jumrah’ (kerikil), ‘Hayawaan’ (hewan), ‘Ghurab’ (burung gagak), ‘Zurni Laila’ (kunjungi saya di malam hari), ‘Ahzan’ (paling sedih), ‘Himar’ (keledai), ‘Ashiyah’ (wanita yang durhaka), ‘Dzalimin’ (orang yang aniaya) dan lain sebagainya. Nama seperti ini tidaklah berdasarkan petunjuk agama Islam dan boleh jadi nama-nama buruk tersebut menjadi sebab munculnya kesulitan dan problem bagi seseorang di masa hidupnya.


    Demikian halnya, sudah sepantasnya untuk menjauhkan gelar-gelar yang tidak Islami seperti : Beik, Pasha, Afandi (gelar Turki) dan seterusnya. Karena gelar-gelar seperti ini akan menanamkan perasaan angkuh dan kagum pemiliknya.



  • Tidak Menggabungkan Nama Muhammad n dan Julukannya Abul Qasim.

    Dalam hal ini Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pakailah namaku dan jangan pakai julukanku (kunyahku).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)


    Demikian pula beliau pernah melarang menggabungkan antara nama dan julukan beliau yakni dengan memberi nama Muhammad Abul Qasim sebagaimana hal tersebut disebutkan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi, dan beliau menyatakan shahih.
    Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan tersebut berlaku ketika beliau masih hidup. Adapun setelah beliau wafat, maka larangan tersebut tidak berlaku lagi. Namun, pendapat yang lebih kuat insya Allah tidak menggabungkan julukan nama dan julukan beliau serta akan lebih baik jika tidak menggunakan julukan (kunyah) Abul Qasim. Hal ini berdasarkan hadits-hadits Nabi yang disebutkan dan diperkuat lagi dalam sabda beliau shallalahu ‘alaihi wasallam, “Pakailah namaku dan jangan pakai julukanku. Sesungguhnya aku adalah seorang pembagi yang membagi-bagikan di antara kalian”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)



  • Menukar Nama yang Buruk dengan Nama yang Baik.

    Apabila Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam didatangi seseorang yang memiliki nama buruk, beliau pun menukar nama tersebut. Demikian juga jika beliau mendengar nama yang kurang baik, beliau langsung menukarnya dengan nama yang lebih baik. Di antara contohnya adalah beliau pernah menukar nama ‘Ashiyah (wanita yang durhaka), dan bersabda, “Namamu ‘Jamilah’ (wanita yang cantik).” (HR. Muslim), Beliau juga menukar nama ‘Barrah’ dan bersabda, “Berilah ia nama Zainab”.(HR. Muslim).


    Demikianlah beliau menukar setiap nama yang mengandung makna celaan, aib, dan cacian. Bahkan, beliau menukar nama yang mengandung makna pujian sebagaimana beliau menukar nama ‘Barrah’ (wanita yang senantiasa berbuat baik) dengan nama Zainab dengan alasan yang telah disebutkan. Nama Barrah juga mengandung pujian terhadap diri sendiri. Oleh karena itu, nama-nama tersebut ditukar dengan yang lebih baik dan tidak terlarang.



  • Boleh Memberikan Julukan atau Kunyah kepada Anak Kecil dan Seseorang yang Belum Punya Anak.

    Nabi shallalahu ‘alaihi wasallam pernah memberi julukan (kunyah) kepada saudara Anas yang pada saat itu masih kecil. Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hai Abu ‘Umair (saudara Anas)! Apa yang telah dilakukan Nughair (burung kecil)? (HR. al-Bukhari). Beliau shallalahu ‘alaihi wasallam juga pernah memberikan julukan (kunyah) (Ummu Abdillah) kepada istrinya tercinta ‘Aisyah dengan nama keponakannya ‘Abdullah anak kakaknya yang hal itu tersebut dalam sabdanya, “Julukanmu Ummu Abdillah.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Padahal sudah ma’lum bahwa Ummul Mukminin Aisyah adalah telah dikehendaki tidak memiliki keturunan.



  • Tidak Memanggil Seseorang dengan Sebutan yang Ia Benci.

    Allah Ta’ala berfirman yang artinya , “…Dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk …” (QS. al-Hujuraat : 11)


    Dalam Ayat tersebut sangat tegas menjelaskan kepada kita bahwa seorang muslim dilarang memanggil sesama saudara atau temannya dengan sebutan yang ia benci, karena hal tersebut bukanlah adab yang terpuji dalam bergaul dengan sesama. Bahkan memanggil dengan nama atau gelar yang ia benci atau dengan sebutan yang membuatnya emosi akan menimbulkan permusuhan di antara mereka. Terlebih lagi apabila sebutan tersebut menunjukkan aib yang terdapat pada diri orang tersebut, seperti sebutan si pincang, si buta, si jenggot, si botak, si gondrong, si belang, si pendek atau panggilan-panggilan yang lain yang tidak disukai oleh orang yang dipanggil. 


    Sudah seyogyanya kita memanggil anak-anak dan saudara-saudara kita dengan panggilan-panggilan yang ia sukai dan menjadi kehormatan bagi dirinya, terlebih lagi hal itu akan menjadikan dirinya bahagia dan senang dengan apa yang kita lakukan. Maka bisa dipastikan ukhuwah akan semakin rekat, kasih sayang akan semakin tumbuh, dan cinta sesama orang yang beriman yang didasari karena Allah Ta’ala akan semakin kuat. Wallahu a’lam




    Oleh : Abu Thalhah Andri Abd. Halim
    1. Disadur dan sarikan dari kitab : ‘Mausuu’ah al-Adaab al-Islamiyah’, karya Syaikh Abdul Aziz bin Fathi as-Sayyid Nada

    2. Buletin An-Nur


Pesan Untuk Para Orang Tua

Setiap orang tua pasti menginginkan anak mereka sukses dalam studi, sehingga do’a pun tidak pernah henti-hentinya mereka panjatkan kepada Allah subhanahu wata`ala demi kesuksesan tersebut, di samping itu, mereka menyiapkan semua kebutuhan dan fasilitas yang mendukung kesuksesan tersebut. Bahkan mengiming-iminginya dengan hadiah-hadiah apabila sukses dalam ujian.


Begitu besar perhatian para orang tua terhadap studi, masa depan, dan urusan-urasan dunia anak-anak mereka. Mereka benar-benar merasa bertanggung jawab akan hal tersebut. Tapi sayangnya mereka tidak memiliki perhatian dan rasa tanggung jawab atas akhirat anak-anak mereka sebesar perhatian dan rasa tanggung jawab atas dunia anak mereka. Begitu pula dengan perhatian mereka terhadap nasib anak-anak mereka setelah kematiannya, boleh jadi tidak seperti perhatian mereka akan ketentraman dan kebahagian mereka di saat hidup di dunia.


Tanggung jawab para orang tua terhadap anak-anak mereka seakan hanya terbatas pada perkara dunia yang fana, dan terkesan mereka mengabaikan perkara ukhrawi yang abadi.


Terbukti bahwa sebagian besar para orang tua memiliki cita-cita dan harapan agar anak mereka dapat menjadi seorang dokter, insinyur, pilot, tentara, dan lain-lain. Intinya adalah harapan duniawi belaka. Mereka beranggapan dengan semua itulah anak-anak mereka dapat hidup dan meraih kebahagian.


Dan terbukti pula dari rasa kecewa yang sangat seandainya anak mereka terlambat mengikuti ujian, sehingga mereka harus rela tidak tidur agar anaknya tidak terlambat dan tertinggal pada saat ujian sekali lagi demi sebuah kesuksesan dan masa depan sang anak. Tetapi jarang di antara para orang tua yang menyesal dan kecewa saat anak mereka terlambat shalat Subuh seperti penyesalan dan rasa kecewa mereka tatkala anak mereka tertinggal ujiannya atau gagal dalam ujian. Bahkan para orang tua selalu bertanya setiap hari kepada anak-anaknya tentang ujiannya. Apa yang mereka kerjakan, bagaimana mereka menjawab, dan semoga jawabannya benar? Apakah mereka pernah bertanya kepada anak mereka setiap harinya tentang perkara agamanya? Sudah shalat belum? Dengan siapa berteman? Dan apakah pernah bertanya kepada anak-anak mereka saat mereka tidak ada di rumah seharian, di mana mereka?


Para orang tua merasa begitu terpukul dan merasa gundah gulana ketika mereka tahu bahwa anak-anak mereka bermalas-malasan dalam ujian, tetapi tidak bersedih dan tertuntut ketika anak-anak mereka bermalas-malasan dalam menjalankan sunnah dan kewajiban agama mereka. Mereka berikan dan penuhi semua yang diinginkan anak-anak mereka, dan mereka melarangnya sementara dari hiburan-hiburan, seperti menonton video, televisi, koran, majalah supaya tidak melalaikan mereka dari menghafal dan menyiapkan ujian.


Sedikit sekali di antara para orang tua yang memikirkan untuk anak-anak mereka tentang ujian yang tidak memiliki gelombang kedua. Tidak dapat diulang jika gagal, atau ‘diher’ jika ada materi-materi yang tidak mencapai target. Pilihan yang ada hanyalah lulus atau gagal. Gagal berarti dimasukkan dan menetap di dalam Neraka. Ini juga artinya adalah kerugian yang nyata dan siksa yang hina. Apakah mungkin ijazah, sertifikat prestasi, piagam penghargaan, kedudukan dan kekayaan dapat menyelamatkan mereka dari adzab Allah Ta`ala. Atau memberi syafa'at ketika mereka menerima kitab catatan amal mereka dengan tangan kiri mereka? Kemudian berteriak dengan sekencang-kencangnya, sebagaiman firman Allah Ta`ala, artinya,"Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.Telah hilang kekuasaan dariku". (QS. al-Haqqah: 27-29).


Semua ini bukan berarti para orang tua meremehkan atau menelantarkan anak-anak mereka. Tetapi semata-mata untuk mengingatkan bahwa akhirat anak-anak mereka lebih utama untuk diperhatikan dan diusahakan, serta lebih berhak untuk diamalkan.


Teramat langka rasanya kalau ada Orang tua yang bersungguh-sungguh mencarikan seorang guru privat atau ustadz untuk mengajari anak-anak mereka al-Qur'an dan sunnah. Yang ada para orang tua saat ini dalam mengekspresikan rasa cinta dan kasih sayang mereka kepada anak mereka berupa menyediakan pembantu, supir, mobil yang siap melayani mereka setiap saat. Bahkan menyiapkan untuk mereka rumah yang penuh dengan hiburan-hiburan yang diharamkan dan melalaikan mereka dari mengingat Allah Azza Wa Jalla dan ta'at kepada-Nya. Mungkin seribu satu dari para orang tua yang memberikan hadiah/ penghargaan saat anak mereka menghafal beberapa juz dari al-Qur'an atau belajar hadits-hadits Nabi shallallahu `alaihi wasallam.


Sebagian orang tua menjanjikan anak-anak mereka berlibur keliling dunia, mengunjungi pantai-pantai dan tempat-tempat rekreasi lainnya di seluruh dunia atau membelikan mereka mobil mewah apabila mereka lulus. Tetapi tidak pernah sekalipun menjanjikan anak-anak mereka, apabila sukses menghafal al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi shallallahu `alaihi wasallam, sukses melaksanakan haji dan lain-lain. Walhasil, seperti apa yang kita lihat, al-Qur'an mereka ganti dengan majalah dan koran. Shalat diganti dengan menonton konser musik. Majlis ta'lim diganti dengan tempat-tempat hiburan, dan hasilnya muncullah generasi seperti binatang, sebagaimana firman Allah Ta`ala, artinya, "Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai." (QS. al-A'raf: 179)


Maka hendaklah kita sebagai orang tua benar-benar memperhatikan kehidupan akhirat anak kita. Adapun langkah-langkah yang harus kita lakukan dalam hal ini di antaranya : 


  • Memperbaiki diri kita sendiri, sehingga kita benar-benar menjadi orang tua yang shalih dan patut untuk diteladani. Karena pada keshalihan kita dan dengannya pula, anak-anak kita akan istiqomah dan senantiasa dijaga oleh Allah subhanahu wata`ala. Allah Ta`ala berfirman, artinya, "Sedang ayahnya adalah seorang yang shalih"(QS. al-Kahfi: 82).




  • Menjadikan Tarbiyah Islamiyah (pendidikan Islam) sebagai tujuan utama dan orientasi kita dalam mendidik anak-anak kita dan bukan berarti melarang mereka untuk belajar ilmu-ilmu tehnik keduniaan, hanya saja porsi yang diberikan tidak sebesar perhatian kita kepada akhirat mereka. Allah subhanahu wata`ala berfirman, artinya, "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi." (QS. al-Qashash: 77)


  • Hendaklah kita bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla dalam menjaga kemashlahatan mereka baik di dunia maupun di akhirat, karena anak-anak kita adalah amanah yang akan Allah Ta`ala pinta pertaggung-jawabannya. Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah seorang hamba diberikan kepemimpinan oleh Allah Ta`ala ia mati sedangkan pada saat matinya ia berbuat curang terhadap rakyatnya (yang dipimpin), melainkan Allah akan mengharamkan surga baginya.” (Muttafaq ‘Alaih)

    Hendaklah para orang tua memperhatikan kisah Luqman yang diabadikan Allah tabaraka wa ta`ala dalam al-Qur'an tentang wasiat yang ia sampaikan kepada anaknya tercinta. Betapa Luqman menyeru anaknya kepada sesuatu yang membuatnya dapat meraih kebahagian hidup yang hakiki serta menyelamatkannya dari adzab yang pedih, yakni melarang anaknya dari menyekutukan Allah Ta`ala, artinya, "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya kesyirikan merupakan kezhaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13). Ia menunjukkan kepadanya bahwa yang dapat menyelamatkan dari adzab Allah subhanahu wata`ala adalah dengan menjauhkan syirik dan bersegera mengerjakan ibadah kepada Allah Ta`ala dengan mendirikan shalat, memerintahkan pada kebaikan, mencegah kemungkaran sebagaimana firman Allah Ta`ala artinya, "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar." (QS. Luqman:17), Serta menyuruhnya untuk berakhlak yang baik, yang dengannya dirinya akan menjadi mulia dan tinggi kedudukannya, dan melarangnya bersikap sombong terhadap manusia dan merendahkan mereka, sebagaimana firman Allah Ta`ala, artinya, "Dan janganlah memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. 31:18). Dan berjalan di bumi Allah Ta`ala dengan rendah hati dan lembut dalam berbicara, sebagaimana firman Allah Ta`ala, artinya, "Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai."(QS. Luqman: 19)


  • Hendaklah orang tua mengetahui dan mengajarkan anaknya bahwa dunia ini adalah fana dan dia bak fatamorgana yang mengelabui mata. Dan bahwa kusuksesan yang hakiki adalah membatasi diri dan keinginan hanya pada sesuatu yang diridhai Allah ta`ala, bertakwa dan ta'at kepada-Nya. 




  • Hendaklah para orang tua bersungguh-sungguh dalam mendidik dan menjaga mereka dari hal-hal yang merusak serta tidak menyia-nyiakan mereka sebelum datang penyesalan yang tidak ada arti dan sebelum kehinaan menimpa mereka pada hari yang tidak ada gunanya lagi semua yang disesali. Wallahu Ta’ala a’lam.



Oleh: Abu Nabiel Muhammad Ruliyandi
  1. Sumber: Disadur dari artikel yang berjudul “Risalah Ila Ba’dhi al-Abaa’,” Daar al-Qasim, Riyadh Muraji’: Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin,

  2. Buletin An-Nur

Prahara Dalam Kehidupan Masa Remaja

Saudaraku para pemuda! Wahai engkau yang rela menjadikan Allah subhanahu wata'aala sebagai Rabbnya. Islam sebagai agamanya, Muhammad shallallahu 'alahi wasallam sebagai Nabi dan RasulNya. 


Engkau yang beriman kepada Al-Qur`an, rasul-rasul dan para malaikat. Engkau yang telah dipilih oleh Allah subhanahu wata'aala sebagai hambaNya. Ketahuilah bahwa kita semua pasti memiliki kesalahan dan dosa, senantiasa lupa dan lengah sehingga terjerumus ke dalam kubangan dosa dan maksiat, akan tetapi bagi yang diberi taufiq oleh Allah subhanahu wata'aala ia mengetahui kekeliruannya sehingga cepat-cepat sadar, beristighfar dan bertaubat kepada Allah subhanahu wata'aala, menyesal dan bertekad untuk tidak mengulanginya.


Mereka orang-orang yang dipuji Allah subhanahu wata'aala dalam firmanNya yang artinya,
"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya." (QS. Al-A`raf: 201)


Dalam ayat yang lain disebutkan,
"Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah subhanahu wata'aala, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah ? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu, sedang mereka mengetahui. Balasan untuk mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." (QS. Ali Imran : 135-136).


Allahu Akbar…! Perbuatan keji, mendzalimi diri sendiri…?, akan tetapi ketika mereka bertobat, menyesal dan beristighfar, mereka tinggalkan seluruh kemaksiatan dan tidak mengulanginya lagi, maka Allah subhanahu wata'aala akan mengampuni mereka, dan memberikan kepada mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, buah-buahan yang ranum, tempat-tempat berteduh yang mengasyikkan, bidadari-bidadari cantik tak terbayangkan yang belum pernah disentuh oleh manusia, tidak pula jin, dan indahnya menikmati wajah Allah Rabbul izzati, yang merupakan kenikmatan tiada banding. 


Masyaa Allah…, tidakkah Engkau wahai para pemuda berlomba-lomba untuk meraihnya? Akankah Engkau jual kenikmatan abadi tersebut dengan syahwat dan kesenangan dunia yang fana dan hanya sesaat saja? Dengan mengisi lembaran hidupmu dengan kemaksiatan dan dosa? Tidak saudaraku, tidak…! Pemuda yang cerdas yang memiliki pandangan jauh ke depan, pastilah ia akan segera berlomba untuk meraihnya dan segera menghentikan segala kesalahan-kesalahan dan aktivitas yang sia-sia.




Kesalahan-kesalahan yang sering terjadi di kalangan para pemuda yang hendaknya diperhatikan dan segera dijauhi di antaranya:

  • Menyepelekan kewajiban-kewajiban agama.
    Mereka lupa akan tujuan Allah subhanahu wata'aala menciptakannya di dunia, yaitu untuk beribadah kepadaNya, sejak ia mukallaf (dibebani kewajiban-kewajiban masa baligh) hingga ajal menjemputnya. Bahkan Allah subhanahu wata'aala mengatakan dalam hadits qudsi, "Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku sukai dari apa yang aku wajibkan kepadanya.” (HR. al-Bukhari). Dan kewajiban paling besar yang paling sering di tinggalkan oleh para pemuda adalah shalat. Padahal tidaklah seseorang dikatakan muslim kecuali dengan menegakkannya. Dia adalah amal shalih yang pertama kali dihisab, yang merupakan standar dan ukuran akan diterimanya amal-amal shalih yang lain. Jika baik, maka baik pulalah amal yang lain dan jika buruk, maka buruk pulalah amal yang lainnya. Maka siapa yang berani meninggalkannya berarti ia telah melakukan perbuatan dosa terbesar yang dapat menjadikannya berstatus kafir bagi pelakunya.



  • Mengarungi bahtera syahwat.
    Pemuda yang kehilangan pegangan, buta terhadap ilmu agama, tidak memandang apakah yang ia konsumsi dan nikmati adalah sesuatu yang halal ataukah haram, apakah yang ia lakukan merupakan perbuatan maksiat atau ketaatan. Ia telah dibutakan oleh gemerlapnya dunia dan nikmatnya mengarungi lautan syahwat, sehingga Allah subhanahu wata'aala mencela mereka dalam firmanNya, artinya "Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan." (QS. Maryam :59).



  • Menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.
    Jika mereka tahu bahwa waktunya adalah kehidupannya, umur adalah harta yang paling berharga baginya, yang tidak akan pernah kembali hari yang telah berlalu, pasti ia tidak akan menghabiskan umur dan waktunya dalam kesia-siaan 



  • Mengonsumsi minuman memabukkan dan barang-barang terlarang.
    Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap yang memabukkan adalah haram." (Muttafaq `Alaih).



  • Merokok.
    Tidak diragukan bahwa merokok adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan dalil-dalil umum yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah serta akal yang sehat, karena ia termasuk sesuatu yang membahayakan badan, mengganggu orang dan menyia-nyiakan harta. Allah subhanahu wata'aala berfirman, artinya, “Dan (Allah) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. al-A’rof: 157). Dan juga Allah subhanahu wata'aala berfirman, artinya, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri.” (QS. an-Nisa: 29). Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, “Tidak boleh melakukan tindakan bahaya dan membahayakan (orang lain).” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh al-Albani). 



  • Melakukan kebiasaan buruk 'onani' dan yang sejenisnya.
    Maka obat yang paling tepat dan syar`i adalah iman kepada Allah subhanahu wata'aala, menikah, menundukkan pandangan, puasa, menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat, berteman dengan orang-orang shalih, menjauhkan diri dari hal-hal yang menjadikan seseorang terjerumus ke dalam perbuatan hina ini.



  • Tasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir.
    Mereka merasa bangga ketika berhasil menyamai penampilan, gaya hidup, perilaku dan segala hal yang bersumber dari musuh-musuh Allah subhanahu wata'aala. Mereka lupa sabda Rasul shallallahu 'alahi wasallam, "Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk mereka." (HR. Ahmad dan Abu Daud, dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani).



  • Menjerumuskan diri ke dalam 'penyakit lisan'.
    Seperti mencela sesama, menghina ajaran agama, ghibah, adu domba, dusta, mengucapkan kata-kata jorok lagi buruk, mencela orang lain, dll.



  • Durhaka kepada orang tua.
    Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Dilaknat siapa saja yang durhaka kepada orang tua." (HR. ath-Thabrani) 



  • Isbal (mengulurkan kain sarung atau celana di bawah mata kaki).
    Nabi shallallahu 'alahi wasallam telah begitu jelas memberikan peringatan terhadap perbuatan dosa tersebut dalam sabdanya, "Apa-apa yang menjulur di bawah kedua mata kaki dari kain sarung (atau yang sejenisnya) maka di neraka." (HR. al-Bukhari)

  • Menyanyi dan mendengarkan musik.
    Telah banyak kaum Muslimin baik muda ataupun tua yang terjerumus oleh panah iblis yang satu ini, padahal Allah subhanahu wata'aala telah berfirman, artinya, "Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan 'lahwal hadits' untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah "(QS. Luqman:6). Ibnu Mas`ud berkata, “lahwal hadits' adalah nyanyian.” Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam juga bersabda, "Sungguh akan datang kepada ummatku suatu zaman yang mana mereka akan menghalalkan kemaluan wanita (zina), sutera, khamr dan musik." (HR. Al-Bukhari).



  • Bermaksiat dengan terang-terangan.
    Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, "Seluruh ummatku akan dimaafkan, kecuali 'al-Mujahiruun' (terang-terangan dalam bermaksiat) di antara bentuknya adalah seseorang melakukan suatu kemaksiatan di malam hari dan Allah telah menutupinya, kemudian ketika pagi ia berkata, “Tadi malam saya melakukan ini dan itu (menceritakan kemaksiatan yang ia lakukan)”, padahal Allah telah menutupinya, akan tetapi justru ia sendiri yang membukanya." (Muttafaq `alaih) 



  • Dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh kaum muda,
    Seperti: Tidak mensyukuri nikmat Allah subhanahu wata'aala, menyakiti orang lain, tidak menghormati yang lebih tua , memutuskan hubungan silaturrahim, banyak tertawa dan bergurau yang berlebihan, berteman dengan pemuda-pemuda yang buruk akhlaknya, tidak peduli dengan urusan-urusan ummat dan kaum muslimin, lebih mengutamakan belajar untuk kepentingan dunianya daripada akhiratnya. Ini semua dilatar belakangi oleh kekeliruan mereka dalam memahami pentingnya ilmu syar`i, kekeliruan pandangan mereka terhadap pemanfaatan marhalah (fase) umur mereka, sehingga mereka menilai bahwa masa-masa muda adalah masa berfoya-foya dan menumpahkan segala keinginan hawa nafsunya. Lalu dengan entengnya mereka melakukan kemaksiatan tanpa berfikir apa akibatnya, yang dalam benaknya ia menganggap bahwa taubat adalah kewajiban bagi mereka yang sudah beruban rambutnya. Padahal Islam mengajarkan bahwa bertobat adalah kewajiban yang harus segera dilakukan bagi mereka yang bersalah ataupun tidak. Ibadah adalah kewajiban bagi seluruh kaum muslimin yang sudah mukallaf, baligh dan bukan bagi yang tua saja. Allahu a`lam.



  1. Sumber: Disadur dari: “Min Akhtha`i Asy-Syabab” Qismul-`Ilmi bidaril-wathn. Oleh : Abu Thalhah Andri Abd. Halim

  2. Buletin An-Nur

 

Kiat Hidup Penuh Berkah

Setiap manusia tentu mendambakan kehidupan penuh berkah. Karena itu tak heran, jika kita dapati banyak di antara manusia rela mengorbankan harta, tenaga, bahkan nyawa demi mendapatkan berkah. Dan mereka sangat berharap, jika kesempatan dan umurnya ditambah, merasa sangat gembira ketika rizqinya dilapangkan, memiliki keturunan banyak, dan hal-hal lain yang berupa kesenangan dan kenikmatan yang diinginkan oleh hati manusia. Menurut mereka hal-hal demikianlah yang akan mendatangkan kebahagiaan. 


Sudah seyogyanya seorang muslim senantiasa berdo’a kepada Allah subhanahu wata'aala agar melimpahkan keberkahan kepadanya. Hal inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wasallam; sebagai qudwah hasanah (suri tauladan) bagi kita. Beliau memohon keberkahan kepada Allah subhanahu wata`ala dalam segala urusan. 


Berkah adalah menetapnya kebaikan (dari Allah subhanahu wata'aala, pent) di dalam sesuatu. 


Sungguh apabila berkah terdapat pada sesuatu yang sedikit, niscaya ia akan berkembang menjadi banyak, sedangkan apabila berkah tersebut terdapat pada sesuatu yang banyak, maka niscaya ia akan semakin bermanfaat. Dan di antara buah yang paling agung dari berkah dalam beraneka ragam nikmat yang Allah subhanahu wata'aala karuniakan adalah dipergunakannya nikmat-nikmat tersebut untuk keta`atan kepada Allah subhanahu wata'aala. 


Keberkahan Allah subhanahu wata'aala juga bisa berupa kendaraan yang kondisinya selalu prima, walaupun sudah tua umurnya, jarang rusak atau mogok; Merasakan ketenangan walaupun tidak mempunyai harta yang banyak; Memiliki seorang putri sematawayang yang senantiasa membantu dan mematuhi perintahnya; dikaruniai banyak cucu yang menjadi penyejuk mata baginya. Selain itu ada pula berupa waktu, sehingga ia dengan mudah memanfaatkan seluruh waktunya dalam rangka ibadah dan ta'at kepada Allah dan memberikan manfaat kepada orang lain, dan lain-lain. 


Tentunya kita selalu berdo’a kepada Allah subhanahu wata'aala agar dijauhkan dari hidup yang tidak berkah. Karena banyak pula manusia yang hartanya milyaran rupiah/dolar, tetapi diperbudak oleh hartanya tersebut. Banting tulang bekerja dari pagi hingga larut malam, bahkan sampai tidak tidur malam, karena sibuk menghitung uang dan terus-menerus memikirkan bisnis yang lebih menguntungkan. Ada juga kita dapati seseorang memiliki anak banyak, tetapi semuanya menjadi musuh bagi dirinya, durhaka kepadanya, membuat malu dirinya karena ulah dan prilakunya yang sangat buruk. Ada pula yang tidak pernah puas dengan apa yang ia dapatkan, seolah-olah tujuan hidupnya hanya untuk mengumpulkan dunia. Na'udzu billahi min dzalik! 


Lalu bagaimana berkah dalam hidup itu bisa kita capai? Kiat-kiat di bawah ini merupakan solusi dan jawaban dari pertanyaan tersebut, sebagai berikut: 


  • Bertaqwa kepada Allah subhanahu wata'aala.

    Taqwa merupakan kunci seluruh kebaikan. Allah subhanahu wata'aala berfirman:
    وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ


    "Dan sekiranya penduduk negri beriman dan bertaqwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A`raf :96)
    Allah subhanahu wata'aala juga berfirman:
    وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ


    "Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. Ath-thalaq :2-3). 
    Maksudnya dari sisi yang tidak pernah ia perkirakan.

    Dan "Taqwa" menurut para ulama adalah ‘engkau melaksanakan ketaatan kepada Allah subhanahu wata'aala berdasarka ilmu dari Allah subhanahu wata'aala, semata-mata mengharap pahalaNya; dan engkau tidak bermaksiat kepadaNya karena engkau takut terhadap adzabNya.’


    Maka jika engkau bertakwa berarti engkau telah mengumpulkan dua hal, yaitu perintah dan larangan. Engkau melaksanakan perintah berdasarkan ilmu dan meninggalkan maksiat berdasarkan ilmu,serta engkau betul-betul mengharapkan pahala Allah subhanahu wata'aala atas pelaksanaan perintah-perintahNya tersebut dan engkau sangat takut akan adzab Allah subhanahu wata'aala ;sehingga meningalkan larangan-larangan-Nya. 



  • Membaca Al-Qur`an.

    Sungguh Al-Qur`an merupakan kitab yang penuh berkah, obat dan penawar bagi seluruh penyakit hati dan jasad. Allah subhanahu wata'aala; berfirman:
    كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ


    "Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran". (QS. Shaad: 29).
    Dan amal yang shalih merupakan sarana untuk meraih sebuah kebaikan dan berkah. 



  • Berdo’a.

    Nabi shallallahu 'alahi wasallam senantiasa memohon berkah kepada Allah subhanahu wata'aala dalam berbagai urusan. 



  • Jujur dalam bermu’amalah.

    Baik dalam jual beli, sewa-menyewa ataupun transaksi lainnya. Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda, 
    "Penjual dan pembeli masih memiliki hak memilih selama keduanya belum berpisah (dari tempat transaksi). Jika keduanya jujur dan terbuka (menjelaskan jika ada cacat/kekurangan), maka keduanya diberkahi dalam jual beli mereka dan jika keduanya menutup-nutupi dan berdusta, maka lenyaplah berkah jual beli mereka." (HR. Al-Bukhari)

  • Menyelesaikan pekerjaan di waktu pagi.

    Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam; bersabda, 
    "Semoga Allah subhanahu wata'aala memberkahi ummatku pada waktu pagi mereka". (HR. Ahmad)

  • Mengikuti sunnah Rasul shallallahu 'alahi wasallam dalam setiap urusan.

    Karena hal itu tidaklah mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan. Dari Jabir bin Abdullah radhiallhu `anhu berkata, 
    "Bahwa Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam memerintahkan agar menjilati jari-jemari dan piring, dan beliau berkata, "Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian mana terdapat berkah dari makanan kalian.” (HR. Muslim)

  • Kesungguhan dalam bertawakkal kepada Allah subhanahu wata'aala.

    Allah subhanahu wata'aala; berfirman: 


    وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُه


    "Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS Ath-Thalaq: 3).
    Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam juga bersabda,  
    “Kalaulah kalian bertawakkal kepada Allah subhanahu wata'aala; dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscaya Allah subhanahu wata'aala memberikan rizqi kepada kalian sebagaimana Allah subhanahu wata'aala memberikan rizqi kepada burung, keluar di pagi hari dalam keadaan lapar pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad).

  • Melakukan shalat istikharah dalam setiap urusan.

    Pasrah dan menerima apa yang telah Allah subhanahu wata'aala tentukan, karena hal tersebut pasti lebih baik untuk dirinya di dunia ataupun akhirat. 



  • Tidak meminta-minta kepada orang lain.

    Rasulullah shallallahu 'alahi wasallam bersabda,
    "Siapa saja yang memiliki kebutuhan, lalu ia melimpahkan kebutuhannya tersebut kepada orang lain, maka yang lebih pantas adalah tidak dimudahkan kebutuhannya dan barangsiapa yang memasrahkan kebutuhannya kepada Allah subhanahu wata'aala; niscaya Dia akan mendatangkan kepadanya rizqi dengan segera atau menunda kematiannya." (HR. Ahmad)

  • Berinfaq dan bersedekah.

    Karena keduanya merupakan sarana untuk memperoleh rizqi yang lebih baik yang merupakan karunia Allah subhanahu wata'aala kepadanya. Allah subhanahu wata'aala berfirman: 


    وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ


    "Dan apa saja yang kamu infaqkan, niscaya Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang terbaik". (QS. Saba`: 39)
    Di dalam hadits qudsi disebutkan, Allah subhanahu wata'aala berfirman,  
    "Wahai anak Adam berinfaqlah, niscaya Aku akan menafkahimu". (HR. Muslim) 



  • Menjauhkan diri dari harta yang haram

    Karena harta haram dalam berbagai bentuk dan rupanya tidaklah membawa berkah sedikit pun dan tidak pula menjadikannya langgeng atau awet. Ayat yang menyatakan tentang hal ini sangatlah banyak, di antaranya firman Allah subhanahu wata'aala: 


    يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ


    "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah". (QS. Al-Baqarah: 276),
    Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa maksud 'memusnahkan riba' adalah memusnahkan harta tersebut dari pemiliknya secara keseluruhan atau meniadakan berkah harta tersebut, tidak bermanfaat bahkan menjadikan pemiliknya diadzab, baik di dunia ataupun di akhirat. Sedangkan makna 'menyuburkan sedekah' adalah memperbanyak harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya. 



  • Bersyukur dan memuji Allah subhanahu wata'aala atas segala pemberian dan nikmat-nikmatNya.

    Allah subhanahu wata'aala berfirman, artinya, 
    "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu". (QS. Ibrahim: 7) 



  • Menunaikan shalat fardhu,
    Allah subhanahu wata'aala; berfirman: 


    وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى


    "Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizqi kepadamu. Kamilah yang memberi rezqi kepadamu dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa". (QS. Thaaha : 132)



  • Terus-menerus beristighfar (memohon ampun kepada Allah subhanahu wata'aala).

    Allah subhanahu wata'aala; berfirman:
    فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (10) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (11) وَيُمْدِدْكُمْ
    بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (12)


    "Maka aku katakan kepada mereka, 'Beristighfarlah (mohonlah ampun) kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun, niscaya Dia akan mengirimkam hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai". (QS. Nuh : 10-12)



(oleh: Abu Thalhah)

  1. Sumber : disadur dari risalah "Al-Barakah" , Abdul Malik al-Qosim

  2. Buletin An-Nur

 

13 WASIAT RABBANI (Pesan Moral Untuk Perbaikan Ummat)

Al-Qur'an diturunkan oleh Allah subhanahu wata’ala dengan memuat berbagai manfaat dan fungsi yang sangat besar bagi manusia. Di antaranya adalah sebagai syifa' (obat) baik untuk penyakit badan maupun penyakit hati, ia juga merupa-kan Nur (cahaya) yang menerangi langkah hidup manusia. Al-Qur'an merupakan Hudan dan Furqan (petunjuk dan pembeda) yang menunjukkan ke jalan yang lurus serta membedakan antara yang hak dan yang batil dan masih banyak lagi nama-nama lain dari Al-Qur'an yang masing-masing menunjukkan fungsinya.



Sebagai umat Islam, kita selayak-nya dapat mengambil dan memetik manfaat yang melimpah ruah ini, yaitu dengan cara mempelajarinya, merenungkan, dan memikirkan kandungan-nya, serta mengamalkan apa yang menjadi tuntutannya. Karena dengan itu kita akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia sebagaimana dijanjikan Allah subhanahu wata’ala dan di akhirat kelak kita termasuk orang-orang yang beruntung.



Salah satu pengajaran tertinggi dari Al-Qur'an adalah seperti termuat di dalam surat Al-Israa' dari ayat 23 hingga 39. Andaikan orang mau mengamalkan apa yang terdapat di dalamnya, tentu sudah cukup untuk menata setiap pribadi dan masyarakat, apalagi dengan mengamalkan ayat-ayat yang lainnya. Inilah di antara sebab yang mendorong kami untuk menyajikan tema ini.



Di dalam surat Al-Isra' ayat 23-39 ini terdapat pesan atau wasiat Allah subhanahu wata’ala kepada umat manusia yang mencakup aspek pribadi dan sosial kemasyarakatan. Kalau kita mau mencermati dan memikirkan isi ayat-ayat tersebut, maka sungguh akan kita dapati sebuah pengajaran yang tidak tertandingi sehingga tak ada alasan bagi manusia manapun untuk berpaling dan lari dari Al-Qur'an lalu mencari sumber pengajaran lain apalagi yang tidak sejalan dengan Al-Qur'an.



Kita telah sering mendengar ungkapan bahwa yang paling tahu tentang keadaan suatu benda atau barang adalah pembuatnya. Sehingga jika ada kerusakan atau untuk mengetahui bagaimana cara merawatnya maka harus mengikuti petunjuk pabrik atau perusahaan pembuatnya. Demikian pula manusia adalah ciptaan Allah subhanahu wata’ala, maka yang paling tahu tentang manusia adalah penciptanya yaitu Allah subhanahu wata’ala. Dia lebih mengetahui mana yang baik dan buruk untuk manusia, mana yang berbahaya dan berguna, mana yang merusak dan membangun dan demikian seterusnya.



Maka kinilah saatnya setiap kita untuk kembali kepada Allah subhanahu wata’ala, kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kita gali kandungan dan isinya, kita hayati dan fikirkan, lalu kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Berbagai tatanan hidup yang diletakkan di atas selain tatanan Islam terbukti telah gagal mengantarkan manusia sebagai umat terbaik, sedangkan Al-Qur'an telah terbukti menjadikan umat yang mau berpegang dengannya menjadi manusia-manusia beradab dan bermartabat.



Semoga risalah ini memberikan manfaat bagi penyusun khususnya, para generasi muda, remaja dan masyarakat muslim pada umumnya.



 
Wasiat Pertama; Menyembah (Beribadah) Hanya Kepada Allah subhanahu wata’ala



Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,
"Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia." (QS. Al-Israa': 23). 
Ayat ini sekaligus merupakan larangan keras menyekutukan Allah subhanahu wata’ala dengan sesuatu apa pun, karena syirik (menyekutukan Allah) merupakan dosa yang tidak diampuni sebelum pelakunya bertaubat.



 
Wasiat ke Dua; Berbakti Kepada Dua Orang Tua



Firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,
"Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya." (QS. Al-Israa': 23)


Di antara bentuk-bentuk berbuat baik (birrul walidain) kepada orang tua, sebagaimana dalam kelanjutan ayat adalah:



1. Tidak berkata “ah” atau membentak mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaan-mu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka." (QS. Al-Israa': 23)


2. Berkata yang Baik. Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,  
"Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Israa': 23)


3. Merendah terhadap Mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya, 
"Dan rendah-kanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan." (QS. Al-Israa': 24)


4. Mendo’akan mereka. Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
"Dan ucapkanlah,"Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagai-mana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". Rabbmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat." (QS. Al-Israa': 24-25)


 
Wasiat ke Tiga; Memberikan Hak Keluarga, Orang Miskin, dan Ibnu Sabil



Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
"Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan." (QS. Al-Israa': 26)


 
Wasiat ke Empat; Tidak Menghamburkan Harta



Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya." Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Rabbmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.” (QS. Al-Israa': 26-28)


 
Wasiat ke Lima; Jangan Pelit dan Jangan Boros



Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
"Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. Sesungguhnya Rabbmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hambanya." (QS. Al-Israa': 29-30). 
Maksud menjadikan tangan terbe-lenggu pada leher adalah kikir atau pelit, sedangkan terlalu mengulur-kannya adalah boros.



 
Wasiat ke Enam; Tidak Membunuh Anak



Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar." (QS. Al-Israa': 31)


 
Wasiat ke Tujuh; Jangan Mendekati Zina



Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya,
"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Israa': 32)


 
Wasiat ke Delapan; Tidak Membunuh Jiwa yang Diharamkan



Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
"Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuh-nya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan". (QS. Al-Israa': 33)


 
Wasiat ke Sembilan; Tidak Memakan Harta Anak Yatim



Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa." (QS. Al-Israa': 34)


Wasiat ke Sepuluh; Memenuhi Janji



Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,

"Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya." (QS. Al-Israa': 34)



 
Wasiat ke Sebelas; Memenuhi Takaran dan Timbangan



Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
"Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. Al-Israa': 35)


 
Wasiat ke Dua Belas; Tidak Mengikuti Apa yang Tidak Diketahui



Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya." (QS. Al-Israa': 36)


Wasiat ke Tiga Belas; Tidak Sombong



Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya,
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesung-guhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Rabbmu.” (QS. Al-Israa': 37-38)


Seluruh wasiat yang tersebut di atas merupakan hikmah yang sangat agung, maka siapa saja yang mengam-bilnya berarti telah mengambil bagian yang sangat besar. Allah subhanahu wata’ala berfirman artinya, 
"Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Rabb kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan ilah yang lain di samping Allah, yang menyebab-kan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah)." (QS. Al-Israa': 39) 


(Kholif Abu Ahmad)/ alsofwah.or.id

Adab Terhadap Anak Yatim

Allah subhanahu wata’ala menciptakan alam dengan segenap isinya, kemudian mengaturnya adalah dengan kebijak-sanaan, kemurahan, dan kasih sayang-Nya. Maka kewajiban segenap hamba adalah ta’at, bersyukur, bersabar, dan memohon rahmat serta ampunan-Nya



Anak-anak yatim ditaqdirkan oleh Allah
subhanahu wata’ala lahir atau tumbuh berkembang tanpa bapak adalah berdasar kebijaksanaan Allah subhanahu wata’ala yang Maha Suci lagi Maha Tinggi. Ketiadaan orang tua bukan berarti kekurangan atau hambatan bagi mereka, akan tetapi terdapat banyak hikmah yang diatur oleh Allah subhanahu wata’ala di antaranya:



1. Sebagai sarana bagi kaum mukminin untuk saling berlomba, tolong-menolong, terutama ber-lomba menolong anak yatim.




2. Sebagai sarana bagi kaum mukminin untuk saling memperhatikan dan peduli terhadap nasib sesama, terutama terhadap anak yatim.




3. Sebagai sarana kaum mukminin untuk menghidupkan sunnah nabi dan menegakkan ajaran Allah
subhanahu wata’ala, tentang perhatian terhadap anak yatim.



4. Sebagai sarana kaum mukminin menuntut dirinya memenuhi janji Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu duduk bersanding dengan beliau bagi siapa yang menjamin anak yatim.



5. Sebagai wahana berkiprah bagi anak yatim itu sendiri di kalangan kaum muslimin yang memperhatikannya, bagai seorang anak kepada bapaknya sendiri.




6. Sebagai bukti bahwa Allah
subhanahu wata’ala lah yang Mahakuasa, mengatur, dan yang berhak diibadahi.



7. Sebagai bukti kebenaran iman seorang mukmin dengan memperhatikan anak yatim.




8. Sebagai wahana memperhalus dan memperindah akhlaq kaum mukmin dengan cara bergaul dengan mereka/sebagai benteng kaum mukmin dari api neraka.




ADAB TERHADAB ANAK YATIM




Menunaikan hak-haknya, meliputi:




a. Mencukupi pakaian yang mereka perlukan, memperhatikan pakaian mereka, termasuk biaya loundry serta perbaikan dan waktunya ganti. Juga pakaian untuk bermain, ke sekolah, untuk shalat, untuk berolah raga, pakaian ganti dan pakian apa saja yang mereka perlukan dengan jumlah yang cukup, perawatan, dan kebersihan pakaian mereka.




b. Memberinya tempat tinggal yang melindungi, menaungi dari hujan, terik matahari, maupun binatang-binatang pengganggu. Jadi tempat tinggal yang kita sediakan haruslah kuat, bersih dan sehat, cukup ventilasi, sinar matahari, tidak bocor. Juga wajib menyediakan, merawat dan mengawasi serta meneliti kalau-kalau ada kerusakan dan kekurangan pada bangunan tempat tinggal mereka.




c. Menjamin makanan yang cukup bagi mereka meliputi makan pagi, siang, sore atau malam, yang mencukupi karbohidrat, vitamin, protein dan mineral lainnya. Kita cukupi mereka dengan buah, ikan, susu, madu, sayur dan sebagainya. Secara rutin maupun bergantian.




Alat dan peralatan hidangan makan harus yang bersih dan sehat, jangan dari bahan plastik yang ditengarai mengandung zat yang berbahaya seperti formalin, karatan dan lain-lain. Mencucinya juga harus bersih, jangan sampai menyisakan kotoran maupun obat pencuci yang berbahaya pula. Jauhkan mereka dari makanan kemasan yang mengan-dung bahan berbahaya, seperti zat pewarna, sodium benzoat, alkohol, dan sebagainya sebab dapat berpengaruh sangat buruk pada perkembangan dan kesehatan otak dan tubuh mereka. Seperti permen-permen dan makanan ringan lainnya. Penyajian kepada mereka harus dengan sebaik-baiknya, ikhlas, sabar, lembut penuh perhatian dan kasih sayang.




Menjaga, mengembangkan, dan mengembalikan harta mereka




Setelah ditinggal bapaknya banyak di antara mereka yang memiliki harta warisan. Maka wali penggantinya berkewajiban untuk menjaga dan mengembangkannya agar bertambah dengan cara yang halal dan tidak habis dimakan zakat. Wali harus men-jalankan dengan tekun, teliti, jujur penuh amanah, ikhlas serta mengembalikannya kepada mereka ketika sudah dewasa dan diuji coba mampu untuk mengelola hartanya sendiri, jangan sampai harta itu dikurangi. Seperti dipakai untuk selamatan kematian dan sebagainya karena tidak pernah acara seperti ini diperintahkan oleh Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam maupun dicontohkan oleh para sahabat maupun para imam kaum muslimin, bahkan mereka melarangnya. “Berkumpul di rumah ahli mayit dan membuat makanan setelah penguburan. Kami menganggapnya sebagai niyahah (meratapi).” (HR. Ahmad 2/204, Ibnu Majah 1612)



Dari Ibnu Umar
radhiyallahu ‘anhuma, dan Mughiroh bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Mayit itu akan diadzab sebab ratapan keluarga (ahlinya).” (Mutafaqun ‘Alaih)



Itulah generasi awal umat yang paling mulia yang harus kita contoh, jangan sampai kita menyelisihinya, dengan nafsu, adat, pikiran maupun qiyas-qiyas sendiri. Kemudian meneruskan adat orang jahiliyah maupun orang kafir, orang Hindu maupu Budha yang menyelenggarakan pertemuan maupun pesta setelah hari kematian dengan memakan harta anak yatim. Marilah kita sadari, kita bertaubat dari nafsu, pikiran, maupuan adat yang salah, kita kembali kepada petunjuk Allah
subhanahu wata’ala, petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta petunjuk para sahabat radhiyallahu ‘anhum, Demi keselamatan kita di dunia dan akhirat.



Sekali lagi jangan mengutamakan keselamatan di dunia dengan cara yang batil atau jahil, yaitu mengikuti adat orang kafir, meninggalkan petunjuk para sahabat
radhiyallahu ‘anhum generasi salaf (pendahulu) yang shalih. Bertaqwalah kita kepada Allah, sungguh harta yang kita pakai berpesta itu lebih berhak dipakai oleh anak yatim dan mengutamakan serta memuliakan mereka itu lebih dicintai Allah subhanahu wata’ala, sehingga menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah yang berdo'a untuk orang tuanya yang telah meninggal. Itu yang jelas bisa bermanfaat bagi orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

“Jika anak adam mati, maka terputus amalnya kecuali tiga hal; shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendo'akannya.” (HR. Imam Muslim)



Jangan diambil sedikit pun harta mereka dengan alasan apa pun. Jangan kita bermaksiat menentang undang-undang syari’at Allah
subhanahu wata’ala.



 
Menjaga kesehatan mereka



Selain memperhatikan menu makanan, pakaian, dan tempat tinggal mereka, kita juga harus memperhatikan dan menjaga kesehatan mereka. Sejak lahir tahnik lah dengan lumatan kurma, minumkan ASI pertama dengan memperhatikan kebersihan tubuh mereka. Air minumnya, rambut dan kukunya, gigi, hidung dan telinganya, serta gigi dan jari jemari juga seluruh tubuhnya kita bersihkan dan jaga kesehatannya. Periksakan kesehatan mereka atau Cek Up, dan selalulah meraba atau mengusap rambut dan kepala mereka dengan kasih sayang sehingga kita selalu mengetahui perubahan kondisi kesehatan mereka. Segera tangani atau bawa ke dokter bila ada keluhan atau gejala sakit.




Latihlah mereka makan minum dengan tangan kanan dan secukupnya, tidur berbaring ke sisi kanan sambil berdo'a. Menepati waktu tidur yaitu tengah hari sebentar, malam hari sesudah Isya' dan bangun menjelang shalat subuh.




Menjauhkan mereka dari lingkungan yang kotor dan penyakit menular.




Melatih dan membina jasmaninya




Latihlah berolah raga, ajak dan jagalah dalam bermainnya. Ajaklah berjalan-jalan, berlari-larian, berenang, menaiki kendaraan. Perhatikan latihan dan kondisi tubuhnya, juga teman berlatihnya, jangan sampai mendekati tempat, atau teman yang mem-bahayakannya.




 
Mendidik mereka dengan sebaik-baiknya

  • Penuhi alat dan sarana pendidikan mereka, pilihkan bahan yang bagus seperti kertas, pena, penghapus, dll, dari bahan yang tidak membahayakan kesehatan mereka. Perhatikan selalu kerapian barang-barang mereka, latihlah mereka untuk bisa merawatnya dengan sabar dan tekun.


  • Carikan tempat pendidikan yang menunjang mereka menuju pendidikan islami, yang bertujuan membinanya kepada ketaqwaaan, mencintai Al-Qur'an dengan keteladanan para pembina yang berakhlaqur karimah. Bimbinglah untuk mampu melaksanakan tata tertib lembaga pendidikan (Sekolah-Madrasah-Pondok)nya.


  • Jauhkan mereka dari tempat, teman dan benda-benda yang menyebabkan mereka berakhlaq buruk. Seperti kaset, CD, film, majalah yang tidak mengandung unsur pendidikan, bahkan merusak akhlaq mereka.


  • Berilah mereka rizki yang halal, dijauhkan dari harta riba, haram, maupun syubhat, serta peringatkan mereka dari perbuatan dan ahklaq yang dilarang Agama serta jelaskan keutamaan akhlaq-akhlaq karimah yang harus senantiasa mereka sandang.


  • Memberikan suri teladan yang baik bagi mereka.





Tempat Pendidikan Anak Yatim




Karena demikian mulia kedudukan mereka di kalangan umat Islam, maka syariat menganjurkan agar mereka dididik di tempat yang penuh tanggung jawab, seperti antara lain pada:




1. Rumah tangga keluarganya sendiri, famili terdekat.




2. Rumah tangga keluarganya sendiri, famili jauh.




3. Lembaga pendidikan Muslim yang baik seperti yayasan, panti asuhan Muslim dan sebagainya.




4. Tokoh yang memiliki kemampuan dan amanah.




Bila tidak mampu secara pribadi, anggota masyarakat Muslim bisa berpartisipasi menjadi donatur atau membantu yayasan panti asuhan, atau membantu mereka secara pribadi kepada keluarga anak yatim, atau juga pada sebagian kebutuhan anak yatim dengan cara yang baik. Sesungguhnya niat baik orang beriman yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat balasan dan pertolongan dari Allah
subhanahu wata’ala. Insya Allah. 


(Waznin Mahfudz) / Buletin An-Nur

Mengetahui Penyebab Terputusnya Silaturrahim

Di antara fenomena yang marak di masyarakat dewasa ini adalah pemutusan silaturrahim, baik terjadi di internal keluarga maupun dengan kalangan kerabat. Apa sebenarnya penyebab terjadinya pemutusan silaturrahim tersebut? Apa pula solusinya?



 
Sebab-Sebab Terjadinya Pemutusan Silaturrahim



1. Ketidaktahuan akan akibat-akibat memutuskan silaturrahim, baik akibat yang segera muncul atau pun yang kelak akan terjadi.




2. Ketidaktahuan akan keutamaan menyambung silaturrahim, baik keutamaan yang segera akan diperoleh atau pun yang kelak akan diperolehnya.




3. Lemahnya ketakwaan seseorang dan kurang kuat agamanya




4. Sikap sombong.


Contohnya bila mendapatkan pangkat yang tinggi atau sebagai seorang tajir besar, seseorang bersikap sombong terhadap kaum kerabatnya, enggan mengunjungi mereka dengan anggapan bahwa dirinyalah yang pantas untuk dikunjungi, bukan sebaliknya.!?



5. Terputusnya Hubungan yang Ber-langsung Lama.


Hal ini menimbulkan adanya jarak dan jurang di antara mereka. Hubungan menjadi tidak akrab lagi dan suka menunda-nunda untuk berkunjung. Akibatnya, lama kelamaan malah terputus total dan terbiasalah dengan pemutusan silaturrahim dan saling menjauhi.



6. Cercaan yang Berlebihan.


Sebagian orang ada yang bila salah seorang kerabatnya baru mengunjunginya setelah sekian lama terputus, maka ia langsung menghujaninya dengan serentetan omelan, cercaan, kecaman pedas atas keteledoran dan keterlambatannya datang itu. Dari sini, terjadilah tindakan menjauhi orang tersebut dan keengganan untuk datang karena takut diomeli, dicerca, dan dikecam.



7. Sambutan Berlebihan.


Ada pula orang menyikapi sebalik-nya; bila salah seorang kerabatnya datang, maka ia menyambutnya secara berlebihan dengan pembo-rosan dari sisi pengeluaran dan bersusah payah untuk menghormatinya padahal bisa jadi, bukan termasuk keluarga yang mampu dan berada. Dari sini, para kerabatnya menjaga jarak dan membatasi diri untuk datang ke rumahnya karena takut menyusahkannya.



8. Kurang Perhatian terhadap Tamu.


Ini termasuk sebab yang menimbulkan pemutusan silaturrahim di antara kalangan kerabat. Ada semen-tara orang yang bila kalangan kerabatnya mengunjunginya, ia tidak menunjukkan perhatian terhadap mereka dan tidak mendengarkan pembicaraan mereka. Malah, berpaling dan membuang muka bila mereka berbicara, tidak suka dengan kedatangan mereka, tidak berterima kasih atas kedatangan mereka dan menyambut mereka dengan berat dan dingin. Hal inilah yang menyebabkan mereka tidak suka berkunjung kepadanya.



9. Sikap Bakhil dan Pelit.


Sementara orang ada yang bila dianugerahi rizki oleh Allah subhanahu wata’ala dengan harta atau kedudukan, ia selalu menghindar dari kalangan kerabatnya. Sikap ini bukan karena kesombongan tetapi karena takut kalau pintunya yang selalu terbuka buat kalangan kerabatnya itu disalah-artikan di mana lama kelamaan membuat mereka mulai berani meminjam uang kepadanya, mengaju-kan berbagai permintaan atau hal lainnya. Karena itu, alih-alih membu-kakan pintu, menyambut dan memberikan pelayanan kepada mereka, ia malah berpaling dan membuang muka serta mengisolir mereka agar tidak selalu menyusahkannya dengan berbagai permintaan.



10. Keterlambatan Pembagian Harta Warisan.


Bisa jadi, di antara kalangan kerabat terdapat warisan yang belum dituntaskan pembagiannya, baik karena masih bermalas-malasan mengurusinya, karena sebagian mereka ada yang keras kepala, atau sebab lainnya. Semakin pembagian warisan itu ditunda-tunda dan berlangsung lama, maka akan semakin rentan terjadi permusuhan dan kebencian di antara sesama kerabat; yang satu ingin segera mendapatkan jatah warisan agar dapat menikmatinya, yang satu lagi bisa jadi meninggal dunia sehingga anak-anaknya sibuk menghitung-hitung seberapa besar bagian yang didapat orang tua mereka bahkan dengan membayar para pengacara agar dapat mengambil bagian orangtuanya. Sementara ada yang lain lagi, selalu curiga dan berburuk sangka terhadap salah satu dari kalangan kerabatnya itu.



Demikianlah, akhirnya permasalahan menjadi semakin tumpang-tindih dan kacau bahkan kian bertumpuk sehingga akhirnya terjadi jurang pemisah di mana pemutusan silaturrahim menjadi lebih dominan.




11. Sibuk Dengan Urusan Duniaw dan Bersenang-Senang di Balik Gemerlapnya.


Maka, orang seperti ini tidak mendapatkan waktu untuk menyambung silaturrahim dengan kerabatnya dan menjalin kasih sayang dengan mereka.



12. Sering Terjadinya Perceraian di Kalangan Kerabat.


Terkadang terjadi perceraian di kalangan kerabat sehingga permasalahan yang terjadi antara suami isteri semakin banyak, baik disebab-kan anak-anak, sebagian hal yang terkait dengan talak atau hal lainnya.



13. Jarak yang Jauh dan Malas Ber-kunjung.


Ada sementara orang yang kediamannya jauh dan mengalami kesulitan untuk mencapai tempat berkunjung. Akibatnya, lebih memilih untuk menghindar dari keluarga dan kerabatnya. Bila berkeinginan untuk mengunjungi mereka, ia selalu merasa kesulitan, malas untuk datang dan berkunjung.



14. Tempat Tinggal yang Berdekatan antara Kerabat.


Barangkali hal ini dapat menimbulkan sikap saling menghindar dan memutuskan hubungan di antara kalangan kerabat. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Amirul Mukminin, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang berkata, "Perintahkanlah kaum kerabat untuk saling ber-kunjung dan tidak untuk saling bertetangga."



Maknanya, Beliau (Umar) mengatakan hal itu karena bertetangga dapat menimbulkan tumpang tindih atas hak, dan barangkali menimbulkan keterasingan dan pemutusan silaturrahim. Berkunjung hendaknya dilakukan secara jarang-jarang sebab sering dikatakan, “Berkunjunglah jarang-jarang, niscaya akan menambah kecintaan.”




15. Tidak Tahan dan Sabar Atas Tindakan Kalangan Kerabat.


Sebagian orang ada yang tidak tahan dengan tindakan kalangan kerabatnya, walau pun hanya sepele. Begitu terjadi kesalahan tak sengaja dari salah seorang kerabat atau mendapat cercaan darinya, langsung memutus silaturrahim dan mengisolir mereka.



16. Melupakan Kalangan Kerabat di Hari Walimah dan Pesta.


Terkadang salah seorang keluarga mengadakan walimah atau pesta tertentu, lalu mengundang kalangan kerabatnya baik melalui lisan, kartu undangan atau via telepon. Terkadang lupa dengan salah seorang dari mereka dimana kebetulan orang yang tidak sengaja dilupakan ini memiliki jiwa yang lemah, temperamental atau selalu berburuk sangka. Lalu kelupaan itu, ia tafsirkan sebagai tindakan sengaja melupakannya atau menghinakan dirinya sehingga sangkaan ini kemudian menyeretnya untuk mengisolir kerabatnya tersebut atau memutuskan silaturrahim.



17. Iri Hati.


Ada sementara orang yang dianu-gerahi oleh Allah subhanahu wata’ala dengan ilmu, kedudukan, harta atau mendapat kecintaan dari orang banyak. Ia selalu melayani keluarga dan kalangan kerabatnya serta selalu terbuka untuk mereka. Karena hal ini, bisa jadi sebagian kerabatnya ada yang iri hati terhadapnya, me-musuhinya, membuat keributan di seputarnya dan meragukan ketulus-annya tersebut.!?



18. Terlalu Banyak Canda.


Kebiasaan ini memiliki dampak negatif. Bisa jadi, keluar kata-kata yang menyakitkan dari seseorang dengan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain, lalu kebetulan yang jadi sasaran adalah orang yang sangat sensitif sehingga menimbul-kan kebencian dalam dirinya terhadap orang yang mengucapkan kata-kata menyakitkan itu.! Ini banyak terjadi di kalangan kaum kerabat karena mereka terlalu sering berkumpul dan berjumpa.



 
19. Adu Domba dan Senang Mendengar-kannya.

Sebagian orang ada yang 'hobi'nya hanya merusak hubungan baik orang lain. Ia selalu berupaya untuk memisahkan antara orang-orang yang saling berkasih sayang dan memperkeruh suasana. Dan, sungguh akan lebih besar lagi bahayanya bilamana ada orang yang selalu mendengarkan adu domba ini dan membenarkannya.!!



 
Solusi



Solusi dari terjadinya pemutusan silaturrahim ini adalah dengan mewaspadainya dan menghindarkan diri dari faktor-faktor yang dapat menyebabkannya. Kemudian melakukan hal yang sebaliknya, yaitu menyambung silatur-rahim, mengenali maknanya, keutamaannya, jalan-jalannya, faktor-faktor yang mendukungnya serta etika-etika yang harus dijaga dalam berinteraksi dengan kalangan kerabat. Wallahu a'lam.
 
[Hafied M Chofie]

Sumber: Qathi'atur Rahim, al-Mazhahir, al-Asbab, Subulul 'Ilaj karya Muhammad bin Ibrahim al Hamad)

Sumber: Buletin An-Nur

Sesungguhnya Perbuatanmu Akan Dibalas Dengan Balasan Yang Setimpal

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
"Sesungguh nya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang". (HR. al-Bukhari). 
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula), barangsiapa menyayangi makhluq Allah maka Allah akan menyayanginya. Sebagai mana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,  
"Orang-orang yang penyayang, maka Allah akan menyayangi mereka. Sayangilah penduduk bumi maka penduduk langit akan menyayangi kalian". (HR. At-Tirmidzi).


Balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatan yang dilakukan. Allah subhanahu wata’ala akan memperlakukan hamba-Nya sebagaimana perlakuan hamba tersebut terhadap hamba-hamba Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
"Jikalau kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. At-Taghabun:14). 
Dan juga firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat An-Nur ayat 22 yang artinya,
"Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?".


Bersegeralah untuk meringankan kesulitan-kesulitan orang lain agar Allah meringankan kesulitan dari dirimu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
"Barangsiapa menghilangkan satu kesulitan dari seorang muslim maka Allah akan membalasnya dengan menghilangkan satu kesulitan dari kesulitan-keslitan yang ada pada hari Kiamat". (HR. al-Bukhari).


Bantulah manusia memenuhi kebutuhan hidupnya, maka dengan cara itu engkau akan mendapatkan pertolongan dari Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
"Allah selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya". 
Juga sabda beliau,
"Barangsiapa berada di dalam kebutuhan saudaranya maka Allah berada di dalam kebutuhannya". (HR. Imam Muslim).


Jadilah engkau seorang hamba Allah yang menghilangkan kesukaran orang-orang yang tertimpa kesulitan niscaya Allah akan memberi kemudahan kepada kamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
"Barangsiapa yang memudahkan orang yang kesulitan maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat". (HR. Muslim).


Bersikap lemahlembutlah terhadap hamba-hamba Allah, semoga engkau termasuk golongan yang tersirat dalam do'a yang dipanjatkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
"Ya Allah, barangsiapa bersikap lembut terhadap umatku, maka perlakukanlah ia dengan lembut dan barangsiapa yang membuat kesukaran kepada mereka maka ciptakanlah kesukaran baginya". (HR. Ahmad). 
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,  
“Sesungguhnya Allah Maha lemah lembut dan mencintai kelembutan. Dia memberikan pada kelemah lembutan apa yang tidak Dia berikan pada kekerasan". (HR. Muslim). 
Dan juga sabda beliau, 
“Barangsiapa terhalang untuk mendapat sifat lemah lembut maka ia terhalang dari semua kebaikan". (HR. Muslim).


Tutupilah aib hamba-hamba Allah, maka Allah subhanahu wata’ala akan menutupi aibmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,  
"Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat". (HR. Muslim). 
Dan sabda beliau, 
"Barangsiapa menutupi aib seorang muslim maka Allah akan menutupi aibnya pada hari Kiamat". (HR. Ibnu Majah).


Berilah makan kaum muslimin niscaya Allah subhanahu wata’ala akan memberi makanan kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
"Mukmin manapun yang memberi makan seorang mukmin ketika lapar maka Allah akan memberikannya makanan dari buah-buahan Surga.” (HR. Imam At-Tirmidzi).


Berilah minum kaum muslimin maka Allah subhanahu wata’ala akan memberikan minuman kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah besabda,
"Mukmin manapun yang memberi minum seorang mukmin yang sedang kehausan maka Allah akan memberinya minum pada hari Kiamat dari Ar-Rohiq Al-Makhtum". (HR. At-Tirmidzi)


Berilah kaum muslimin pakaian niscaya Allah akan memberi pakaian kepadamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,  
"Mukmin mana pun yang memberi pakaian kepada seseorang yang telanjang maka Allah akan memberinya pakaian sutra halus berwarna hijau dari Surga". (HR. at-Tirmidzi).


Sebagaimana perlakuanmu terhadap hamba-hamba Allah, maka seperti itu pula perlakuan Allah terhadapmu. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali engkau menyiksa manusia karena sesungguhnya Allah akan menyiksamu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, 
"Sesungguhnya Allah menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di dunia". (HR. Imam Muslim). 
Allah subhanahu wata’ala juga telah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 49 yang artinya,
"Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya". 
Dalam ayat lain Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,  
"Dan pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan kepada malaikat), "Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam adzab yang sangat keras". (QS. Al-Mukmin: 46).


Hindarilah dirimu dari mempersulit hamba-hamba Allah karena hal itu dapat membuatmu tertimpa do'a yang diucapkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam,
"Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku lalu membuat susah mereka, maka buatlah kesusahan baginya". (HR. Muslim).


Janganlah engkau menyakiti hati kaum muslimin dengan mencari-cari aib mereka karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, 
"Barangsiapa mencari-cari aib seorang muslim, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang Allah menelusuri (mencari-cari) aibnya maka Allah akan membongkarnya meskipun berada di dalam rumahnya". (HR. At-Tirmidzi).


Janganlah engkau cabut rasa kasih sayangmu kepada manusia karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda, 
"Barang siapa yang tidak menyayangi manusia, maka Allah Azza wa Jalla tidak menyayanginya". (HR. Muslim).


Ingatlah baik-baik wahai hamba-hamba Allah! Di mana engkau memperlakukan hamba-hamba Allah dengan sebuah perbuatan, maka engkau akan mendapatkan balasan yang sesuai dengan apa yang telah engkau kerjakan di sisi Sang Pencipta. 
Imam Ibnul Qoyyim berkata, "Sesungguhnya Allah Maha Mulia dan Ia mencintai kemuliaan dari hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui (berilmu), dan mencintai para ulama. Allah Maha berkuasa, mencintai para pemberani. Allah Maha Indah, mencintai keindahan. Allah Maha Penyayang, menyayangi orang-orang yang penyayang. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang. Allah Maha Menutupi (aib), mencintai orang-orang yang menutupi aib hamba-hamba-Nya. Allah Maha Pemaaf, mencintai hamba-Nya yang senang memberi maaf. Allah Maha Pengampun, mencintai hamba-Nya yang mengampuni kesalahan orang lain. Allah Maha Lembut, mencintai kelembutan dari hamba-hamba-Nya dan membenci kekerasan. Allah Maha Santun, mencintai sopan santun. 
Allah Maha Baik, mencintai kebaikan dan pelakunya. Allah Maha Adil, mencintai keadilan. Allah Maha Menerima udzur (alasan yang dibenarkan), mencintai orang yang menerima udzur hamba-hamba-Nya.



Allah subhanahu wata’ala akan memberi balasan kepada hamba-Nya sesuai dengan sifat-sifat ini. Maka barangsiapa memaafkan maka Allah akan memaafkannya. Barangsiapa siapa yang mengampuni kesalahan manusia maka Allah akan mengampuninya. Barang siapa bersikap dermawan kepada orang lain maka Allah subhanahu wata’ala akan bersikap dermawan kepada nya. Barangsiapa memusuhi hamba-hamba Allah maka Allah akan memusuhinya.



Barangsiapa bersikap lemah lembut kepada hamba-hamba Allah maka Allah akan bersikap lemah lembut kepadanya. Barangsiapa menyayangi makhluk Allah maka Allah akan menyayanginya. Barangsiapa berbuat baik kepada manusia maka Allah akan berbuat baik kepada-Nya. Barangsiapa memberi manfaat kepada manusia maka Allah akan memberikan manfaat kepadanya. Barangsiapa menutupi aib saudaranya maka Allah subhanahu wata’ala maka menutupi kekurangan atau kesalahannya. Barangsiapa berusaha untuk tidak marah kepada manusia maka Allah tidak akan marah kepadanya.



Barangsiapa mencari-cari aib manusia maka Allah akan menelusuri aib-aibnya. Barangsiapa membuka kejelekan hamba-hamba Allah maka Allah akan membuka dan membeberkan kejelekannya. Barangsiapa enggan berbuat baik kepada manusia maka Allah tidak akan berbuat baik kepadanya. Barangsiapa membuat sulit seseorang maka Allah akan memberinya kesukaran (masalah). Barangsiapa berbuat makar, maka Allah akan membalas makar kepadanya. Barangsiapa menipu Allah maka Allah akan memberikan balasan kepadanya dengan tipuan pula.



Dan barangsiapa memperlakukan seseorang dengan sebuah sifat maka Allah akan memperlakukannya dengan sifat itu sendiri di dunia dan akhirat. Allah akan memperlakukan hamba-Nya sesuai dengan perlakuan hamba terhadap makhluk-Nya.



Maka tamaklah engkau -semoga Allah memberi taufik kepadamu- untuk senantiasa memberi manfaat kepada hamba-hamba Allah, untuk merealisasikan sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
"Barangsiapa diantara kalian mampu memberi mafaat terhadap saudaranya maka lakukanlah". (HR. Muslim). 
Berbuat baiklah kepada mereka sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.



Jadilah engkau seorang yang lembut yang senang memudahkan urusan mereka. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,
"Neraka itu haram menyentuh setiap orang yang lunak, lembut, mudah (dalam bermuamalah) dan dekat (dengan manusia)". (HR. Imam Ahmad).


Maafkanlah mereka, janganlah mudah marah, toleransilah terhadap mereka dan senantiasalah menjadi seorang pengampun. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni segala dosa dan kesalahanmu. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala seseorang yang memperbagus amal perbuatannya.  
(Zainal Abidin)
Disarikan dari: "Kama Takuunu Li 'Ibadillahi Yakunullahu Lak" karya Abdul Qayyum As-Suhaibany"

 
Powered by Blogger